Ngrambe Kota terpencil di lereng lawu utara

About me

Foto Saya
Hany
Hanisah adalah seorang blogger dari Kabupaten Ngawi yang sedang menempuh jenjang pendidikan S1 di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Melalui blog ini saya ingin berbagi pengetahuan dengan siapa saja karena pada dasarnya semua manusia dapat memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Lihat profil lengkapku

Network

Blog

Rabu, 19 Juni 2013

Resensi Buku Pendidikan Apresiasi Seni (Wacana dan praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya

0 komentar
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ -

Pendidikan Apresiasi Seni
Wacana dan praktik untuk Toleransi Pluralisme Budaya
 
A.    Merintis Pendidikan Seni untuk Apresiasi Keanekaragaman Budaya
1.      Pendidikan Pluralisme digunakan untuk pendewasaan kehidupan berbangsa
Sebelum masuk pada inti sub-bab tersebut harus diketahui terlebih dahulu mengenai tujuan dan dasar Pendidikan Pluralisme. Yang dimaksud dengan Pendidikan Pluralisme menurut Mochtar Buchori ialah pendidikan untuk mencapai kemampuan hidup berdasarkan keharusan-keharusan yang lahir dari kenyataan pluralism yang ada dalam suatu masyarakat. Pendidikan Pluralisme ini dimaksudkan untuk membimbing masyarakat untuk menerima kennyataan pluralitas yang ada dalam masyarakat secara ikhlas agar masyarakat kemudian mengembangkan cara hidup sesuai dengan tuntutan pluralitas itu. Sedangkan yang dimaksud dengan “Pendewasaan Berbangsa”, menurutnya pula proses menuju suatu kehidupan yang dewasa sebagai suatu bangsa.dalam kehidupan suatu bangsa, kedewasaan dating dan pergi Karena setiap bangsa harus hidup dalam zaman dengan tantangan yang berbeda-beda. Selama suatu bangsa memahami tantangan zamannya dan mampu menjawab tantangan-tantangan tersebut, maka bangsa itu akan mampu mencapai kehidupan berbangsa yang dewasa.
Tujuan “Pendidikan Pluralisme” ialah menyadarkan para peserta didik akan prasangka-prasangka yang ada dalam diri mereka masing-masing dan menanamkan dalam diri mereka benih-benih kemampuan untuk mengendalikan prasangka-prasangka tadi. Tujuan ini akan dapat dicapai bila suatu bangsa mengenali keindahan serta potensi-potensi untuk hidup harmonis dan kreatif dalam masyarakat yang pluralistik. Dasar yang melandasi pendidikan ini adalah realitas obyektif bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan keharusan mengelola keanekaragaman tersebut secara harmonis dan kreatif sehingga keanekaragaman tersebut menjadi sesuatu yang indah.
Banyak sekali petunjuk-petunjuk mengenai kebelumdewasaan kita dalam kehidupan berbangsa, umumnya kepentingan bangsa selalu dikalahkan dengan kepentingan kelompok dan bahkan kepentingan pribadi. Kita baru akan dipandang sebagai bangsa yang dewasa apabila secara umum kita mampu mendahulukan kepentingfan bangsa daripada kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi. Namun ada satu kelemahan dasar kita, bahwasanya yang memiliki kelompok itu menutup diri dari kelompok-kelompok lain. Sikap inilah yang merupakan suatu agosentrisme kelompok. Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah belajar mengenal kelompok-kelompok lain, mengenal sifat-sifat mereka dan mengenal watak mereka.
Dalam mengenal kelompok lain selain dapat dilakukan secara dangkal, dapat pula secara mendalam. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa cara untuk mengenal kelompok lain itu ada dua cara, yakni formal-teoretik dn informal-empirik. Cara formal dapat dilakukan melalui studi (etnografi, etnolinguistik, etnomusikologi, ilmu perbandingan agama dsb), sedangkan informal dapat dilakukan melalui pergaulan. Tindakan saling mengenal antara kelompok satu dengan kelompok lain ini merupakan landasan untuk mencapai toleransi dan apresiasi terhadap suatu kelompok. Toleransi dan apresiasi dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kemampuan hidup bersama saling berdampingan secara harmonis dan kreatif. Dalam kehidupan nyata di Indonesia, tidak semua kelompok mendapatkan kesempatan untuk melakukan pengenalan kelompok lain secara formal-teoretis. Kebanyakan hanya memiliki satu cara yakni mengenal kelompok lain secara sosial atau secara informal-empirik.
Dari uraian yang ditulis oleh Mochtar Buchori, terdapat suatu harapan mengenai pendidikan pluralism dapat dilihat sebagai suatu kegiatan yang bukan berdiri sendiri namun suatu cara untuk membangun suatu tujuan yang ingin dicapai tanpa merusak lingkungan dan kemanusiaan. Pendidikan pluralisme tidak dapat diajar secara terpisah melalui mata pelajaran khusus yang tidak terkait dengan mata pelajaran lain. Selain itu juga merupakan bagian integral dari suatu agenda pendidikan baru, yakni memperbarui konsep-konsep tentang kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan.
2.      Pendidikan Seni dalam Perspektif Kurikulum Berbasis Kompetensi
Karya-karya seni pada dasarnya merupakan hasil penafsiran kehidupan yang dilakukan oleh para senimannya dalam dan melalui proses kreatif. Karya-karya seni yang baik bukanlah suatu formula, rumus-rumus, atau jurus-jurus kehidupan, melainkan model-model kreatif tentang kemanusiaan, yang terkadang berbagai kemungkinan yang berhubungan dengan moral, psikologi, dan  masalah-masalah sosial-budaya. Dalam karya seni yang besar tidak lagi membicarakan tentang diri sendiri melainkan soal manusia dan kemanusiaan.
Perubahan-perubahan yang secara sosial terjadi disebabkan oleh adanya upaya manusia khususnya di bidang IPTEK. Seni bukan lagi sebagai interpretasi kehidupan yang berdasarkan pada idealisme, keseimbangan dan harmoni saja namun juga sebagai pakem dari sebuah proses penciptaan. Melalui pendidikan yang dianggap sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia dan kebudayaan, pada hakikatnya memiliki hubungan/ keterkaitang yang sangat erat satu dengan lainnya. Orientasi budaya ini dirasa sangat pentingadanya dalam pelaksanaan pendidikan. Tanpa orientasi budaya, tidak akan mendekatkan siswa terhadap nilai-nilai tertentu.
Bersandar pada idealime pendidikan seni dan realitas perkembangan seni yang menimbulkan perubahan sosial, maka pendidikan seni dipertimbangkan untuk menjadi salah satu kegiatan yang bersifat antisipatif. Artinya suatu kegiatan yang dapat menyongsong perkembangan yang akan terjadi. Mengenai pendidikan yang berbasis kompetensi yang menekankan kemampuan pada standar isi, maka standar kompetensinya bersifat umum dan luas dibedakan secara lebih spesifik. Dengan begitu dapat disusun indikator-indikator tertentu sehingga tercapailah tujuan yang telah ditentukan.
Implikasi dari pendidikan berbasis kompetensi terletak pada pengembangan kurikulum dan silabus berbasis kompetensi yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan, pengalaman belajar serta evaluasi pada kompetensi siswa. Sejatinya kemampuan dasar ini merupakan dari standar penjabaran dari standar kompetensi itu sendiri. Setiap standar kompetensi yang sifatnya umum akan ada uraian mengenai kompetensi dasar yang sifatnya lebih khusus. Hal ini dikarenakan kompetensi dasar dianggap sebagai acuan dalam mengembangkan silabus dan sistem pengujian dari kemampuan minimal yang dimiliki oleh siswa dalam mempelajari mata pelajaran.
Adapun yang menjadi pertimbangan lainnya adalah sejumlah hal yang terkait dengan sifat maupun fungsi. Sifat hakiki dari pendidikan seni antara lain sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Dari sifat-sifat tersebut bermaksud bahwa pelaksanaan pendidikan seni tak hanya berorientasi pada tercapainya tujuan mengembangkan kemampuan berekspresi dalam jiwa siswa semata, namun juga berorientasi pada terkembangnya potensi-potensi yang terdapat dalam diri siswa, baik yang berkaitan dengan logika, etika, maupun estetika.
Dengan teraktualisasikannya sifat-sifat tersebut di atas, maka fungsi edukatif dan kultural pun akan terpenuhi. Pendidikan seni mampu berfungsi sebagai pendidikan yang ikut berperan serta dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis dan menyeimbangkan antara aspek logika, etika, dan estetika dalam diri siswa.
B.     Pendidikan Apresiasi Seni dan Pencerahan Anak Bangsa
1.      Pendidikan Apresiasi Seni Sebagai salah satu Medium Pengembangan SDM Indonesia
Pendidikan apresiasi seni hendaknya mengarah untuk memberikan apresiasi kepada kebhinekaan yang ada dan sekalugus ikut memperkuat terwujudnya integrasi Indonesia yang baik dari segi kebudayaan maupun dari segi-segi lainnya. Pembangunan yang semestinya adalah yang dilaksanakan atas ajaran-ajaran yang tercermin dalam pancasila sebagai ideologi yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pembangunan berkelanjutan nilai-nilai pilihan pribadi disaring dengan nilai-nilai prinsip obyektif tidak dapat terwujud selama hedonisme masih tetap diandalkan sebagai prinsi-prinsip utama ekonomi. Pembangunan berkelanjutan juga tidak akan terwujud bila individualism radikal masih tetap dipegang sebagai prinsip pokok dan kehancuran kesalehan serta dibiarkan membudaya. Maka dari hal itu dirasa sangat penting untuk diciptakan berbagai nilai obyektif yang bersifat transcultural dan obyektif yang mengarah pada terkendalinya nilai-nilai pilihan pribadi dan masyarakat. Selain itu diperlukannya pula pertimbangan dari berbagai ukuran yang menyangkut kriteria-kriteria moral obyektif yang segala sesuatunya dibutuhkan bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.
2.      Pendidikan Seni Musik Sebagai Upaya Menumbuhkan Daya Estetika dan Kreativitas Anak
Intelegensi musical merupakan salah satu intelegensi yang berkembang dengan banyak pengaruh dari factor bakat. Kemampuan musical setiap anak dapat dikembangkan apabila dikondisikan sejak awal. Banyak peneliti yang menyatakan hasilnya bahwa rangsangan music klasik yang diberikan pada janin sejak dalam kandungan mampu merangsang perkembangan intelegensi acak secara optimal.
Kenyataan yang dijumpai bahwa pembelajaran yang diberikan melalui lagu akan lebih mudah ditangkap oleh anak-anak. Sifat dasar nyanyian mampu menggugah rasa keindahan yang secara hakiki telah dimiliki oleh setiap orang., termasuk anak-anak yang masih usia dini sekalipun. Selain itu, bermain music atau bernyanyi sesungguhnya memerlukan gabungan dari beberapa intelegensi, yakni intelegensi logika matematis, intelegensi kebahasaan, intelegensi intra maupun interpersonal.
Rangsangan lingkungan berupa pengenalan music kepada anak berpengaruhu besar terhadap perkembangan intelegensi anak termasuk juga berpengaruh terhadap pembentukan watak dan kepribadian anak. Anak yang tidak pernah dikenalkan dengan music yang lembut cenderung akan tumbuh dengan sifat enerjik penuh hentakan dan mungkin cara berfikir yang meloncat. Oleh karenannya, music mampu meningkatkan kemampuan pendengaran. Maka mendengar pun merupakan suatu dasar dari kegiatan music. Kemampuan mendengar yang dimaksud tidak sekedar menangkap suara yang dibunyikan, tetapi ada proses aktif yang meliputi menerima dan mengorganisasikan bunyi yang ditangkap kemudian diolah menjadi persepsi tentang bunyi tersebut.
Selain hal itu music juga membantu mengembangkan kreativitas. Kreativitas merupakan kekuatan untuk memproduksi sesuatu yang baru dan asli. Kreatifitas tidak terhenti dan menghayalkan sesuatu atau memikirkan sesuatu hal yang dianggap baru tetapi langsung menuangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan karya nyata, baik yang dilihat atau yang didengar, membantu anak untuk menghasilkan sesuatu yang unik, mampu berpikir bebas, fleksibel dan menghasilkan ide-ide baru yang lebih kreatif. Untuk itu perlu adanya bimbingan dan fasilitas yang mengkondisikan anak untuk selalu berpikir dan berperilaku yang kreatif sehingga akhirnya memungkinkan anak terangsang untuk menghasilkan suatu karya yang benar-benar baru dan orisinil.
Kurikulum nasional di Indonesia menempatkan pendidikan seni sebagai pengetahuan seni yang kering dengan rangsangan. Hal inilah yang mengakibatkan apresiasi anak terhadap kesenian menjadi dangkal dan penghargaan terhadap bidang studi kesenian menjadi rendah. Penting halnya untuk menyeimbangkan perkembangan antara belahan otak kanan dengan otak kiri.
3.      Apresiasi Seni Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat
Perkembangan teknologi modern begitu cepat bagi kehidupan manusia. Bersamaan dengan kemajuan teknologi yang tidak mungkin dihindari itu, orang yang tidak dapat menutup mata dengan dampak negatif yang ditimbulkannya baik berupa material namun juga yang berkenaan dengan kedalaman nilai kemanusiaan. Terdapat faktor lain yang turut menipiskan nilai kedalaman manusia adalah sistem pendidikan yang tidak mengakar pada fitrah manusia. Pendidikan di Indonesia pada decade terakhir ini hanya menekankan pada aspek IQ atau kecerdasan intelektual. Tiga aspek lain seperti kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan sosial (AQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) kurang diperhatikan. Akibatnya memang peserta didik dirasa baik pada ranah intelektual akan tetapi emosinya, sikap atau interaksi sosialnya dan agamanya tidak sempurna. Fitrah manusia yang mempunyai pikiran, hati, dan perasaan menjadi tidak seimbang.
Pendidikan pada dasarnya mengisi tiga kebutuhan anak didik, yakni ranah kognitif (akal), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Ilmu-ilmu eksakta akan mengisi domain kognitif, bidang studi agama, budi pekerti, dan moral membentukk sikap sedangkan teknik, olah raga, dan mengarah pada keterampilan. Jika dalam system pendidikan kita memberi porsi yang banyak (mungkin malah berlebihan) pada bidang studi eksakta berarti terjadi ketidakseimbangan dalam pendidikan yang diharapkan jika tuntutan kognitif, afektif, dan psikomotor terpenuhi. Khusus pendidikan kesenian akan bermanfaat untuk membentuk kecerdasan emosional peserta didik. Kecerdasan emosi pada akhirnya membentuk anak didik yang memiliki dimensi “kedalaman” karena emosi berkaitan dengan rasa. Alangkah indahnya jika apresiasi seni disebabkan oleh seni yang merupakan suatu kekuatan yang mamapu mengalahkan dunia yang kasar, kata Jakob Burckhadt. Menurut S. Suharianto manfaat seni adalah mampu membuat manusia lebih bijaksana, lebih mencintai hidup, serta lebih mendekatkan manusia bukan saja kepada sesame makhlluk hidup, melainkan juga kepada sang pencipta kehidupan itu.
Apresiasi terhadap nilai-nilai estetika sebenarnya sudah ada semenjak masa primitive, semenjak kebudayaan manusia belum begitu maju. Sekarang juga terdapat bermacam bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai estetika. Ada yang menyukai seni-seni yang bernuansa religious ada pula yang popular dan bahkan yang kontemporer. Maka dapat disimpulkan bahwa apresiasi seni berarti juga menerima nilai-nilai estetika. Indonesia yang luas memiliki banyak budaya, masing-masing etnis dan suku bangsa memiliki budaya tersendiri. Seni dapat mengasah rasa manusia sehingga dimensi kemanusiaannya menjadi lebih baik dan seni dapat dimanfaatkan untuk media dakwah.
Read more
Posted by: Hany
Semua tentang Hany Updated at: 08.27.00

Senin, 10 Juni 2013

Pulang Kampung ke Ngrambe Lagi

1 komentar

Alhamdulillah... bisa pulang kampung juga ke Ngrambe dengan motoran dari Yogyakarta. Bersama adek walau dengan sedikit memaksa karena dia juga baru pulang kampung dua hari sebelumnya. Karena itu kembali ke Yogyakarta hari ini saya naik bus walau sebenarnya mual. Motor di bawa adek ke Solo dahulu karena senin adek masuk kuliah. Membawa oleh-oleh salak dari kabun belakang rumah saya berangkat. Ini postingan saya di dalam bus menuju ke Solo ngambil motor dulu di tempat adek. :) karena sudah mulai pusing dan mual. Sekian postingan untuk saat ini... semoga lancar hingga tujuan.. amiiin

Read more
Posted by: Hany
Semua tentang Hany Updated at: 13.46.00

Rabu, 15 Mei 2013

Mimpi pacarku jadi pangeran

1 komentar

Tadi malam saya mimpi pacar saya jadi pangeran. Saya tidak tau awalnya kalau pacar saya adalah pangeran kerajaan yang ada di desa saya. Ketika kencan, tiba-tiba ada sekelompok orang yang berpakaian khas keraton dan memergoki kita. Ketika itu pangeran menyuruh saya pergi dan bersembunyi karena takut disakiti para tentara keraton itu. Orangtuanya marah karena pangeran pacaran dengan saya orang yang biasa. Dan pengeran dilarang bertemu dengan saya. Sejak saat itu saya dan pangeran jarang bertemu. Namun jika orang tua pangeran pergi, pangeran selalu tiba-tiba menemui saya kapanpun itu dan mengajak pergi berkencan.

Waktu terus berlalu... pangeran di jodohkan dengan putri dari kerajaan lain. Saya sedih.. saya hanya melihat acara pernikahan pangeran dari jauh. Namun ternyata wanita yang dijodohkan itu adalah dari kerajaan yang jahat. Saya berharap pangeran bisa kembali pada saya. Namun pangeran menghilang tak tau kemana... dan saya mendaki gunung mencoba untuk mencari pangeran. Saya terus naik, dan naik.... hingga terjatuh ketika mencoba menaiki tanjakan.. dan saya terbangun.

Bagi saya, pacar saya sekarang adalah pangeran. Benar-benar pangeran yang berparas tampan yang suka dengan orang biasa seperti saya. Pangeranku selalu tampan disetiap saat. :* Selalu sempurna bagi saya.

Read more
Posted by: Hany
Semua tentang Hany Updated at: 08.37.00

Senin, 13 Mei 2013

Aku Bahagia Kau Tersenyum Lagi

0 komentar

Aku bahagia malam ini kau tersenyum lagi, kau tak marah padaku lagi. Terimakasih beibh... aku menyayangimu... aku lega malam ini. Terimakasih beibh... terimakasih.. :* aku tak tau akan berkata apa lagi. Ini akan menjadi pelajaran buatku agar lebih manjaga setiap ketikan jariku. Karena jika mulut bisa jadi pedang.  Maka jaripun bisa jadi pedang.

Terimakasih beibh... terimakasih sayang... :)

Read more
Posted by: Hany
Semua tentang Hany Updated at: 22.02.00